PEMIMPI
Dia adalah anak laki-laki bungsu dari enam
bersaudara yang terlahir di keluarga sederhana. Dia mempunyai empat kakak
laki-laki dan satu kakak perempuan dengan sifat yang berbeda-beda. Karena sifat
yang berbeda itulah, dia kurang akur dengan salah satu dari tiga kakak
laki-lakinya itu. dia sering sekali berkelahi, tapi
dia sangat dekat dengan satu kakak perempuannya. Demi menghidupi enam orang
anaknya itu, kedua orang tuanya rela bekerja keras setiap hari. sehingga dia
tinggal dirumah ditemani neneknya. Dan dia sering kali iri dengan
teman-temannya yang sering diantar jemput orang tuanya. Dan lebih tepatnya lagi
dia rindu pelukan seorang ibu.
Ketika kecil dia sering sekali bengong di
bawah pohon sambil nulis-nulis gak jelas dengan di temani oleh angin yang sepoi-sepoi
memikirkan mimpi-mimpi besarnya. Berawal dari kebiasannya itu dia jadi sering
lihat hantu dan sering kesurupan, sampai-sampai badan dan pikirannya dia
melemah. Sehingga dia sering dinobatin sebagai anak indigo yang sering ngomong
sendiri, sampe orang tuanya bilang waktu kecil dia pernah makan beling. Tapi,
lama-kelamaan semua sifat itu menghilang dari dirinya.
Ketika sekolah SD, dia memang bukan anak
yang pintar, apalagi di pelajaran agama dan memang tidak pernah menjadi ranking di
kelasnya. Saat dia berumur 10 tahun, dia liat temen-temennya jalan menuju masjid
dan dia tahu mereka ke sana untuk sholat dan ngaji. Tapi, dia mikir aktivitas
itu cuma untuk buang-buang waktu, karena waktu itu dia sempet mikir bahwa Tuhan
itu gak ada. Kenapa? Karena dia sering jatuh sakit, merasa banyak masalah dalam
keluarganya dan dia mikir kenapa Tuhan gak nolongin dia?
Menginjak kelas 5 SD lama-lama dia iri
lihat temen-temennya rajin berangkat ngaji pake baju koko, pake peci dan bawa
al-Qur’an. Hingga keesokan harinya dia diajak ngaji sama temen-temennya. Dan
dari situlah dia belajar ngaji di masjid deket rumahnya. Saat itu, dia
bener-bener ketinggalan jauh dari
temen-temennya yang lain dan sempet menyesal karena dari kecil dia gak pernah
belajar agama, entah itu ngaji ataupun sholat.
Perlahan tapi pasti, saat teman-temannya hanya membaca al-Qur’an
tanpa arti dan tanpa memahaminya, dia adalah anak satu-satunya di pengajian itu
yang memahami arti dari setiap ayat al-Qur’an yang dibacanya. Hingga dia merasa
banyak hal tentang agama yang akhirnya bisa terjawab satu-persatu, dan dia juga
mikir bahwa agama itu penuh dengan misteri yang harus terus kita cari
jawabannya. Suatu ketika, dia diajak untuk mengikuti kelas tahfidz, awalnya dia
merasa keberatan karena sudah tertinggal jauh dengan teman-temannya. Tapi,
akhirnya dia menyanggupi kelas itu dan melaksanakannya dengan penuh tanggung
jawab. Tak hanya itu, setiap jam 3 pagi ustadznya rela berkeliling ke rumah
murid-muridnya agar segera bangun untuk sholat tahajud berjamaah
dilanjutkan dengan sholat subuh, mengaji,
dan pulang sebentar untuk mandi lalu berangkat sekolah. Itulah kegiatan
sehari-harinya. Sampai suatu ketika dia ditunjuk untuk menjadi wakil sekolahnya
dalam salah satu lomba di bidang agama dan akhirnya menang. Dari situ dia semakin
semangat untuk memperdalam lagi agamanya.
Setelah lulus SD, dia disarankan guru dan
orang tuanya untuk bersekolah di Madrasah
Tsanawiyah agar potensinya bisa terus dikembangkan, akhirnya dia menurutinya untuk sekolah di MTs. Tapi, setelah beberapa bulan sekolah disana, dia merasa tidak betah karena dirumah dia sering sekali bertengkar dengan kakak-kakaknya. Dan akhirnya dia menyerah, lalu dia bilang ke orang tuanya ingin masuk pesantren yang jauh dari rumah.
Kemudian orang tuanya mengurusi segala persiapannya untuk masuk pesantren mulai dari surat pindah sekolah sampai peralatan yang akan di bawa ke pesantren tersebut. Karena surat pindah ke pesantren yang jauh dari rumah agak ribet, akhirnya dia masuk ke pesantren yang gak terlalu jauh dari rumahnya. Tapi karena dia merasa bosan dan gak betah, akhirnya dia cuma bisa bertahan 9 bulan di pesantren itu. Lalu dia kabur ke rumah dan melanjutkan sekolahnya lagi di MTs yang petama.
Tsanawiyah agar potensinya bisa terus dikembangkan, akhirnya dia menurutinya untuk sekolah di MTs. Tapi, setelah beberapa bulan sekolah disana, dia merasa tidak betah karena dirumah dia sering sekali bertengkar dengan kakak-kakaknya. Dan akhirnya dia menyerah, lalu dia bilang ke orang tuanya ingin masuk pesantren yang jauh dari rumah.
Kemudian orang tuanya mengurusi segala persiapannya untuk masuk pesantren mulai dari surat pindah sekolah sampai peralatan yang akan di bawa ke pesantren tersebut. Karena surat pindah ke pesantren yang jauh dari rumah agak ribet, akhirnya dia masuk ke pesantren yang gak terlalu jauh dari rumahnya. Tapi karena dia merasa bosan dan gak betah, akhirnya dia cuma bisa bertahan 9 bulan di pesantren itu. Lalu dia kabur ke rumah dan melanjutkan sekolahnya lagi di MTs yang petama.
Setelah lulus SMP ,
dia sebenarnya ingin melanjutkan sekolah ke SMK multimedia, tapi orang tuanya
ingin agar dia masuk SMA islam. Dan akhirnya dia menuruti keinginan orang
tuanya itu. Di SMA dia dikenal sebagai murid yang bandel, dan sering bolak-balik
ruang BP, bahkan tiga orang sahabatnya tidak naik kelas. Tapi, dia berpikir
bahwa dia harus merubah segala kebiasaan buruknya itu, akhirnya dia menjadi
pengurus osis di bidang kesenian, dan tahun berikutnya dia mencalonkan diri untuk
menjadi ketua osis sekolahnya, walaupun akhirnya kalah. Sampai akhirnya dia
mendapatkan tugas B.Indonesia untuk membuat film pendek bersama kelompoknya. Kelompok
dia sangat antusias dan totalitas dengan pembuatan film pendek itu. Sampai ketika
film itu dikumpulkan lalu kemudian ditonton oleh banyak teman-temannya, dan
bahkan guru mata pelajarannya sangat mengagumi hasil karya dia hingga film itu
diputar kembali di ruang guru untuk ditonton oleh semua guru yang ada. Dan ternyata
semua guru sangat mengapresiasi hasil karyanya itu. Dari situ, dia kemudian
sering mengikuti loba-lomba membuat film pendek. Hingga akhirnya dia diminta
oleh pihak sekolah untuk membuat film pendek tentang wisuda kelulusan di
sekolahnya untuk ditayangkan pada saat acara perpisahan dan ditonton oleh semua
orang yang hadir dalam acara itu. Dia menyanggupi permintaan sekolahnya itu dan
mengerjakannya dengan antusias dan penuh rasa tanggung jawab.
Ketika acara perpisahan tiba, dan kemudian
film itu ditayangkan di depan banyak orang dan termasuk kedua orang tuanya. Dia
mendapat banyak pujian dari para guru dan para orang tua yang hadir bahwa
sekalipun anak itu “bandel” pasti mempunyai kelebihan dan juga bisa membuat
karya-karya kreatif di bidangnya yang pastinya dapat merubah dia kearah yang
lebih baik. Dan pada saat itu juga dia mendapat penghargaan sebagai siswa
terkreatif disekolahnya. Orang tuanya merasa sangat-sangat bangga atas prestasi yang
diraih anaknya itu. Setelah lulus sekolah, akhirnya satu persatu mimpinya itu
bisa terwujud.
Dia merasa bersyukur karena telah menuruti nasehat/perintah orang tua dan gurunya sehingga bisa merubah dirinya ke arah yang lebih baik lagi
Dia merasa bersyukur karena telah menuruti nasehat/perintah orang tua dan gurunya sehingga bisa merubah dirinya ke arah yang lebih baik lagi




